Posted by ayume
| 0 comments
It’s a fact, angka perceraian meningkat belakangan ini. Tidak perlu untuk melihat angka statistik yang dirilis oleh BPS untuk tahu ini. Let’s take a look around, tidak terlalu sulit untuk menemukan salah satu, dua atau tiga diantara orang-orang normal yang kita kenal telah berani mengambil keputusan untuk bercerai.
It’s also a fact- well, at least based on my assumsion, akan lebih banyak lagi wanita yang akan menceraikan (bukan diceraikan) suaminya seandainya keberanian bukanlah alasannya.
Posted by ayume
| 0 comments
The thing is, kita harus punya semacam cara untuk keluar dari kesulitan and get back to the track. Escape mechanism menjadi semacam prosedur baku when everything goes bad. So does in a relationship. Dengan nilainya yang tidak kalah pentingnya dibandingkan bentuk-bentuk investasi lain, sebuah prosedur tetap (protap) harus dikodifikasikan; jauh lebih baik sebelum skenarionya terjadi.
Posted by edoniche
| 1 comment
Rasional atau tidak mungkin tergantung dari perspektif mana memandangnya. Cuman, selingkuhers selalu merasa memiliki alasan atas tindakannya. Pembelaan, pembenaran ataukah sekedar apologi? Hmm, ga tahu juga ya. Anyway, ini mungkin sekedar beberapa pembelaan dari beberapa temen yang sedang menjalankan sebuah game bernama SELINGKUH ver 1.0.
Posted by ayume
| 0 comments
Suatu sore, pada sebuah acara nongkrong bareng di sebuah kafe seputaran Legian, seorang teman mengemukakan alasannya kenapa dia berselingkuh. “Habis gimana, gw ga dapet itu dari suami gw?” D**n, alasan ini sudah terlalu basi untuk sekali lagi saya dengar. Sorry,jeung, it’s just too cliché. I need a better reason than this.
Posted by ayume
| 0 comments
Juga pada suatu sore, di teras rumah. In a moment of silence, tanpa kehadiran suami dan segala jeritan serta rengekan anak-anak, a flash of mind tiba-tiba datang. Ah, saya baru tersadar. Jangan-jangan selama ini saya lengah. Setelah bertahun-tahun, kenapa pula baru terpikirkan sekarang. Demi dewata yang agung, semoga saya belum terlalu terlambat.